ARTIKEL UNIK DAN VIRAL

Semua Akan Koplo Pada Waktunya

DEWAKIUKIU LOUNGE Semua Akan Koplo Pada Waktunya Sekarang-sekarang ini, musik beraliran dangdut sedang hits. Banyak orang suka. Malahan, tidak sedikit yang menyukai sebuah lagu versi dangdut ketimbang versi original.

Padahal, sebelumnya musik dangdut hanya dianggap sebagai musik kampung, musik kelas dua, musik kelas bawah, dan segala hal yang ‘katanya’ tidak mahal.

Sebagai orang Jawa dan tinggal di perumahan yang bertetangga dengan pedesaan, dangdut sudah bukan irama asing di telinga. Hampir di setiap acara di tempat tinggal ane, dangdut selalu hadir. Tidak peduli itu acara nikahan, sunatan, bahkan ane pernah dengar musik dangdut di sebuah pengajian!

Oh, jangan bayangkan di pengajian tersebut pada joget-joget ya? Karena musik yang terdengar ‘dangdut’ tersebut adalah lagu rohani. Karena sejatinya…

Pertanyaannya, kenapa Semua dangdut yang tadinya dianggap sebagai musik kampung bisa digandrungi?

Menurut pengamatan ala-ala ane, semua dimulai saat bintang-bintang dangdut koplo naik daun. Sebut saja Via Vallen, Nella Kharisma, dan lain-lain. Masih ingat, kan, saat lagu ‘Sayang’ Via Vallen viral dan berkumandang di mana-mana? Nah, tampaknya momen itu membuat pandangan orang-orang tentang dangdut koplo berubah.

Setelah Via Vallen, muncul Nella Kharisma dengan lagu-lagunya yang tak kalah apik. Banyak orang suka, banyak orang menyanyikan, meski tak mengerti artinya.

BANDAR Q Pelan-pelan, musik yang awalnya berkembang dari panggung sederhana dari kampung ke kampung, mulai berjalan menuju kafe-kafe, sampai kini bisa diterima hampir seluruh lapisan masyarakat. Setiap ada pertunjukkan, selalu ramai penonton. Mereka bergoyang mengikuti irama.

Bukti kerennya adalah ketika Via Vallen bernyanyi di upacara pembukaan Asian Games di Jakarta. Beuh, itu rame parah!

Pak Jokowi saja goyang. Masa kamu enggak?

Banyaknya lagu yang bisa di-dangdut-in juga jadi salah satu faktor yang membuat aliran musik ini bisa dengan cepat diterima masyarakat.

Cobalah cek di Youtube. Hampir semua lagu ada versi dangdutnya. Mulai dari lagu lokal, luar negeri, pop, RnB, bahkan K-Pop pun ada. Tapi cuma satu yang belum: Mawang versi koplo live. Huehue.

Semua-Akan-Koplo-Pada-Waktunya

Meski banyak pro dan kontra, kita tidak bisa menampik fakta bahwa dangdut koplo mulai mendominasi pasar.

Kenapa begitu?

Dari sudut pandang ane, dangdut adalah musik yang merakyat. Kenyataan bahwa dulu dangdut hanya jadi hiburan rakyat kelas menengah ke bawah membuat musik ini menyebar lebih cepat ketimbang musik-musik yang kata orang adalah musik ‘orang-orang kelas atas’. Terlebih di negeri ini masyarakat kelas menengah ke bawah jumlahnya lebih banyak, maka tidak heran jika dangdut lebih sering terdengar di jalan-jalan ketimbang musik lain.

Hal unik lainnya adalah kurang afdol rasanya jika dangdut tanpa goyang. Betul? Ketika bergoyang itulah, kita bisa sejenak melepas penat dan suntuk yang seharian di rasa. Terlebih jika kita berada bersama orang-orang yang sama-sama menikmati. Sama-sama butuh waktu untuk merasakan me time dengan berjoget diiringi dangdut koplo.

Suka atau enggak dengan koplo itu selera. Tapi nih, orang Indonesia mana yang tidak berdesir darahnya saat mendengar alunan yang bikin badan bergoyang? Yah, kalau pun ente bukan orang seperti itu, namun fakta di lapangan berkata lain.

Lalu, musik yang terdengar semangat dan bervariasi juga jadi salah satu sebab banyak orang mudah menerima. Pada nyadar gak, nih? Meski pun sebuah lagu dangdut berlirik sedih, namun jika sudah ‘koplo’, hawa untuk berjoget langsung merasuk.

Menurut ane, dangdut koplo memberi kesan santai. Seolah bilang, “Bersenang-senang, yuk! Lupakan masalahmu, lupakan stressmu, ayo kita goyang!” Itu salah satu sebab banyak orang melirik genre musik satu ini.

Ane mengerti, paham, dan yakin pasti ada orang-orang di luar sana yang gengsi dengar dangdut koplo. Bukannya tidak suka. Cuma gengsi saja. Gengsi mengakui ia juga terkena virus koplo.
Karena kini celetukan ‘Semua akan koplo pada waktunya’ adalah benar.

Dibaca Juga : Momen Nonton Tak Terlupakan Generasi 80-90’An.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *